Wednesday, August 19, 2020

Sejarah Candi Sewu

Candi Sewu? Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Apabila anda datang dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar 17 kilometer ke arah Solo. Candi Sewu merupakan gugus candi yang letaknya tidak jauh dari Candi Prambanan, yakni kurang lebih sekitar 800 meter di sebelah selatan arca Rara Jongrang. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad kedelapan, atas perintah penguasa Kerajaan Mataram pada saat itu, yakni Rakai Panangkaran (746-784 Masehi) & Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Meski rajanya beragama Hindu, Kerajaan Mataram pada masa itu mendapat pengaruh kuat dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha.
 Apabila anda datang dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar  Sejarah Candi Sewu
Para ahli telah menduga bahwa Candi Sewu merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat beragama Buddha. Dugaan itu juga didasarkan pada isi prasasti batu andesit yang telah ditemukan di salah satu candi perwara. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno & berangka tahun 792 Saka itu dikenal dengan nama Prasasti Manjusrigrta. Dalam prasasti itu diceritakan tentang kegiatan penyempurnaan prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka (792 Masehi). Nama Manjusri ternyata juga disebut dalam Prasasti Kelurak tahun 782 Masehi yang ditemukan di dekat Candi Lumbung.


Candi Sewu terletak berdampingan dengan Candi Prambanan, sehingga saat ini Candi Sewu termasuk dalam kawasan wisata Candi Prambanan. Di lingkungan kawasan wisata itu juga terdapat Candi Lumbung & Candi Bubrah. Tidak jauh dari kawasan itu terdapat juga beberapa candi lain, yaitu: Candi Gana, sekitar 300 meter di sebelah timur, Candi Kulon sekitar 300 meter di sebelah barat, & Candi Lor sekitar 200 meter di sebelah utara. Letak candi Sewu, candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, dengan candi Prambanan, yang merupakan candi Hindu, menunjukan bahwa pada saat itu masyarakat beragama Hindu & masyarakat beragama Buddha hidup berdampingan secara harmonis.

Nama Sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti seribu, menunjukkan bahwa candi yang tergabung dalam gugusan Candi Sewu itu jumlahnya cukup besar, walaupun sesungguhnya tidak mencapai 1000 buah. Tepatnya, gugusan Candi Sewu terdiri atas 249 buah candi, terdiri atas 1 candi utama, 8 candi pengapit / candi antara, dan 240 candi perwara. Candi utama terletak di tengah, di ke-empat sisinya dikelilingi oleh candi pengapit dan candi perwara dalam susunan yang simetris.

Candi Sewu mempunyai empat pintu gerbang menuju pelataran luar, yakni di sisi timur, utara, barat, & selatan, yang masing-masing dijaga oleh sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan. Dari pelataran luar ke pelataran dalam juga terdapat empat pintu masuk yang di jaga oleh sepasang arca Dwarapala, serupa dengan yang terdapat di gerbang luar. Arca Dwarapala yang terbuat dari batu utuh itu ditempatkan di atas lapik persegi setinggi sekitar 1,2 meter dalam posisi satu kaki berlutut, kaki lainnya ditekuk & satu tangan memegang gada.

Tinggi arca Dwarapala ini mencapai sekitar 2,3 meter. Candi utama/candi induk terletak di pelataran persegi seluas 40 meterpersegi, yang dikelilingi pagar dari susunan batu setinggi 0,85 meter. Bangunan candi berbentuk poligon bersudut 20 dengan diameter 29 meter. Tinggi bangunan mencapai 30 meter dengan 9 atap yang masing-masing mempunyai stupa di puncaknya. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 meter.

Kaki candi dihiasi pahatan bermotif bunga dalam jambangan. Untuk mencapai permukaan batur yang membentuk selasar, terdapat tangga selebar sekitar 2 meter yang dilengkapi dengan pipi tangga. Pangkal pipi tangga dihiasi makara, kepala naga dengan mulut menganga lebar, dengan arca Buddha di dalamnya. Dinding luar pipi tangga dihiasi pahatan berwujud raksasa Kalpawreksa.

Di atas ambang pintu tidak terdapat Kalamakara, tetapi dinding di kiri & kanan ambang pintu dihiasi pahatan kepala naga dengan mulut menganga. Berbeda dari yang terdapat di pangkal pipi tangga, bukan Buddha yang terdapat dalam mulut naga, melainkan seekor singa. Candi utama yang dibangun dari batu andesit ini mempunyai pintu utama di sebelah timur, sehingga bisa dikatakan bahwa candi utama ini menghadap ke timur. Selain pintu utama, terdapat empat pintu lain, yakni yang menghadap ke utara, barat dan selatan.

Semua pintu masuk dilengkapi dengan bilik penampil. Ruang dalam tubuh candi berbentuk kubus dengan dinding terbuat dari susunan bata merah. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah 'Asana'. Pada dinding luar tubuh dan kaki atap candi terdapat relung-relung berisi arca Buddha  terlihat dalam berbagai posisi. Candi perwara & candi apit seluruhnya terletak di pelataran luar. Di setiap sisi ada sepasang candi apit yang berada di antara candi utama dengan deretan dalam candi perwara. Setiap pasangan candi apit berhadapan mengapit jalan yang membelah halaman menuju ke candi utama.
 Apabila anda datang dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar  Sejarah Candi Sewu
Candi apit berdiri di atas batu setinggi sekitar 1 meter, dilengkapi dengan tangga selebar sekitar 1 meter menuju ke selasar di permukaan kaki candi. Di atas ambang pintu bukan dihiasi pahatan Kalamakara, melainkan beberapa panil relief. Atap candi berbentuk stupa dengan deretan stupa kecil menghiasi pangkalnya. Dinding tubuh candi apit dihiasi dengan sosok-sosok pria berbusana kebesaran, nampak seperti dewa, dalam posisi berdiri memegang setangaki teratai di tangannya. Candi perwara dibangun masing-masing dalam empat deret di sisi terluar mengelilingi candi utama & candi apit. Pada deret terdalam terdapat 28 bangunan, deretan ke dua terdapat 44 bangunan, deretan ketiga terdapat 80 bangunan, dan deretan ke empat 88 bangunan. Semua candi perwara, kecuali yang berada dalam deretan ketiga, menghadap ke luar/ membelakangi candi utama. Hanya yang berada dalam deretan ketiga yang menghadap ke dalam. Sebagian besar candi perwara terlihat dalam keadaan rusak, tinggal berupa onggokan batu.